Tidak Terus-Terusan Menghukum

Baca: Galatia 2:11-16

2:11Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 2:12Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. 2:13Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. 2:14Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’
2:15Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. 2:16Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorang pun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 119:89-176 ; 1 Korintus 8

Ketika Petrus datang ke Antiokhia, saya menentang dia terang-terangan, sebab tindakannya salah. —Galatia 2:11 BIS

Dalam suatu diskusi tentang rekonsiliasi, seorang peserta dengan bijak mengatakan, “Janganlah kita terus-terusan menghukum orang lain.” Ia berkomentar tentang sikap kita yang cenderung mengingat-ingat kesalahan orang lain dan tak pernah memberi mereka kesempatan untuk berubah.

Ada begitu banyak momen dalam kehidupan Petrus yang bisa saja membuat Allah terus-terusan menghukum Petrus. Namun, Dia tidak melakukannya. Petrus yang impulsif pernah berusaha “menegur” Yesus, tetapi ia justru mendapat teguran tajam dari Tuhan (Mat. 16:21-23). Petrus pernah menyangkal Kristus (Yoh. 18:15-27), tetapi kemudian dipulihkan kembali (21:15-19). Ia juga pernah ambil bagian dalam perpecahan rasial dalam gereja.

Masalah tersebut muncul saat Petrus memisahkan diri dari orang-orang non-Yahudi (Gal. 2:11-12). Ia baru saja makan bersama-sama dengan mereka, tetapi ketika sejumlah orang Yahudi datang (dari pihak yang bersikeras mewajibkan sunat bagi orang percaya), Petrus pun menjauhi orang-orang non-Yahudi yang tidak disunat itu. Rasul Paulus lalu menyebut sikap Petrus itu “munafik” (ay.13). Karena teguran yang keras dari Paulus, masalah itu dapat diselesaikan. Petrus kemudian melanjutkan pelayanannya kepada Allah dalam kesatuan yang indah seperti yang dikehendaki-Nya untuk kita semua.

Tak seorang pun perlu dihukum terus-terusan dalam kesalahan mereka. Dalam anugerah Allah, kita dapat saling menerima, saling belajar, saling menegur jika memang dibutuhkan, dan bertumbuh bersama dalam kasih-Nya. — Tim Gustafson

Tuhan, bawa kami mendekat kepada-Mu hari ini, agar kami juga dapat mendekat dengan sesama kami. Lindungilah kesatuan gereja-Mu. Berilah kami kesepahaman di saat muncul ketidakpercayaan. Pulihkan kami di saat terjadi perpecahan.

Saat menegur seseorang, kita patut memiliki satu tujuan: untuk memulihkan dan bukan mempermalukan dirinya. Chuck Swindoll

Wawasan:

Galatia 2 memberikan contoh menarik tentang teguran yang memang perlu diberikan. Pertama, teguran Paulus terhadap Petrus berlandaskan pada kebenaran Injil. Paulus menegur Petrus bukan karena ketidaksukaan pribadi melainkan karena kecintaannya kepada Injil. Paulus mengenali bahwa perilaku Petrus—yaitu tidak mau bersekutu dengan orang-orang yang tidak mematuhi ritual Perjanjian Lama—bertentangan dengan kabar baik bahwa kemenangan Kristuslah yang menjadi landasan bagi kehidupan baru orang percaya di dalam Roh (ay.21), bukan ritual. Perilaku Petrus menyangkal kabar baik bahwa di dalam Kristus, semua orang percaya adalah setara. Itu sebabnya, Paulus menegur Petrus, bukan untuk mempermalukannya melainkan untuk memulihkan keutuhan persekutuan dalam jemaat.

Ketika ada perilaku buruk yang mengancam kesaksian komunitas Kristen tentang kabar baik yang mereka pegang, kita juga tidak boleh tinggal diam. Tegurlah dengan kasih agar keutuhan persekutuan tetap terjaga.

Adakah seseorang yang perlu Anda tegur dengan kasih?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s