Kita akan Melihat Yesus

Baca: Yohanes 12:20-26

12:20Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. 12:21Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: ‘Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.’ 12:22Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. 12:23Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: ‘Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 12:24Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 12:25Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 12:26Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116–118 ; 1 Korintus 7:1-19

Orang-orang itu pergi kepada Filipus, . . . lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” —Yohanes 12:21

Saat memandang dari atas mimbar, tempat saya membawakan doa di suatu acara pemakaman, saya melihat sekilas plakat berbahan kuningan yang mencantumkan kata-kata dari Yohanes 12:21: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Saya pun berpikir, alangkah tepat ayat itu ketika dengan air mata dan senyuman kami sedang mengenang seseorang yang hidupnya memancarkan Yesus. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan dalam hidupnya, almarhum tidak pernah melepaskan imannya kepada Kristus. Karena Roh Allah juga hidup dalam dirinya, kami dapat melihat Yesus melalui hidupnya.

Injil Yohanes mencatat bahwa setelah Yesus memasuki Yerusalem (lihat Yoh. 12:12-16), sejumlah orang Yunani mendekati Filipus, salah satu murid Yesus, dan meminta, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus” (ay.21). Bisa jadi mereka penasaran dengan penyembuhan dan mukjizat yang diperbuat Yesus. Namun, karena bukan orang Yahudi, mereka tidak diizinkan memasuki pelataran Bait Allah. Ketika permintaan mereka diteruskan kepada Yesus, Dia menyatakan bahwa saatnya telah tiba bagi diri-Nya untuk dimuliakan (ay.23). Perkataan Yesus itu menyatakan bahwa Dia akan segera mati menanggung dosa banyak orang. Yesus akan memenuhi misi-Nya untuk menjangkau tidak saja orang Yahudi, tetapi juga orang non-Yahudi (“orang Yunani” di ayat 20), dan sekarang mereka hendak bertemu dengan Yesus.

Setelah Yesus Kristus mati, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam dalam diri pengikut-pengikut-Nya (14:16-17). Jadi, saat kita mengasihi dan melayani Yesus, kita melihat bahwa Dia aktif berkarya dalam diri kita. Yang luar biasa, orang-orang di sekitar kita juga bisa melihat Yesus melalui kehidupan kita! — Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, aku begitu terhormat dan takjub karena Engkau mau datang dan hidup di dalamku. Tolonglah aku untuk membagikan anugerah yang ajaib ini dengan orang-orang yang kutemui hari ini.

Kita bisa melihat Yesus lewat kehidupan pengikut-pengikut-Nya.

Wawasan:

Sekilas, tampaknya Yesus tidak menghiraukan orang-orang Yunani yang ingin bertemu dengan-Nya. Padahal, seperti biasa, jawaban Yesus yang tidak langsung menunjuk kepada realitas yang jauh lebih dalam. Yesus sedang menjelaskan makna penting tentang apa yang akan terjadi kepada-Nya minggu itu. Pertama, Dia berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yohanes 12:23), ini mengacu pada kematian dan kebangkitan-Nya bagi keselamatan dunia—termasuk orang Yunani. Yesus juga memakai metafora gandum untuk menggambarkan diri-Nya serta misi-Nya. William Hendriksen mengemukakan makna penting biji gandum dalam konteks perayaan Paskah yang sudah dekat. Biji gandum harus mati agar dapat tumbuh menjadi tangkai gandum yang menghasilkan lebih banyak lagi biji gandum untuk dijadikan roti—roti yang akan dimakan pada waktu Paskah. Yesus (Roti Hidup) harus mati demi menghasilkan “banyak buah” (ay.24). Barangsiapa mau melayani Yesus tidak boleh mencintai nyawanya di dunia ini (ay.25)—dengan kata lain, harus mati terhadap diri sendiri.

Maukah saya mati terhadap diri sendiri demi melayani Dia yang telah mati demi saya? Bersediakah saya melakukan apa yang perlu demi “mengikut Yesus”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s