Tuhan Berbicara

Baca: Ayub 38:1-11

38:1Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: 38:2‘Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? 38:3Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

38:4Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! 38:5Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? — Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? 38:6Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya 38:7pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?

38:8Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim? — 38:9ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; 38:10ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; 38:11ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 91–93 ; Roma 15:1-13

Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? —Ayub 39:35

Dalam kitab Ayub, kita dapat menemukan hampir setiap pendapat yang mencoba untuk menjelaskan alasan adanya penderitaan di dunia ini. Namun, perdebatan itu tidak akan pernah dapat menghibur Ayub. Permasalahan Ayub bukan cuma soal keraguan, tetapi terutama soal hubungan, yakni: Bisakah ia mempercayai Allah? Ayub menginginkan satu hal lebih daripada yang lain: kemunculan satu Pribadi yang bisa menjelaskan tentang pengalamannya yang mengenaskan. Ia ingin bertemu dan bertatap muka dengan Allah sendiri.

Akhirnya Ayub mendapatkan apa yang diinginkannya. Allah muncul secara pribadi kepadanya (lihat Ayb. 38:1). Sungguh suatu ironi yang sempurna ketika Allah hadir di saat Elihu, teman Ayub, baru saja menjelaskan mengapa Ayub tidak berhak mengharapkan pertemuan dengan Allah.

Tidak seorang pun—Ayub atau teman-temannya pun tidak—dapat menduga apa yang akan Allah katakan. Ayub telah memiliki daftar pertanyaan yang panjang, tetapi justru Allah yang mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. “Bersiaplah engkau sebagai laki-laki!” kata Allah, “Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku” (ay.3). Seakan mengesampingkan 35 pasal sebelumnya yang penuh dengan perdebatan soal penderitaan, Allah mengucapkan puisi yang megah tentang keajaiban alam ciptaan-Nya.

Perkataan Allah menegaskan perbedaan yang amat besar antara Allah Sang Pencipta dan satu orang fana seperti Ayub. Kehadiran-Nya secara spektakuler menjawab pertanyaan terbesar Ayub: Adakah yang peduli? Akhirnya, Ayub hanya bisa menanggapi, “Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui” (42:3). — Philip Yancey

Tuhan, kami memiliki begitu banyak pertanyaan tentang hidup dan ketidakadilan di dalamnya. Namun, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa Engkau baik. Tolong kami untuk mempercayai-Mu untuk segala sesuatu yang tak kami mengerti.

Tidak ada bencana yang terjadi di luar kedaulatan Allah.

Wawasan:

Setelah segala penderitaan yang Ayub lalui, Allah malah menanggapi pertanyaan-pertanyaan jujurnya yang penuh kepedihan dengan balik bertanya.

Ayub pun lupa akan pembelaan yang hendak diajukannya di hadapan Allah (Ayub 23:1-10). Hadirat dan pertanyaan-pertanyaan Allah tiba-tiba membangkitkan kembali kepercayaan yang pernah ia nyatakan pada permulaan hari-hari terburuk dalam hidupnya (1:21; 2:10).

Namun, kita mengetahui sesuatu yang tidak Ayub ketahui. Pada awal kisahnya, kita diajak ke balik layar untuk melihat bagaimana Allah memandang Ayub (1:1–2:10).

Bagaimana seandainya kita mengetahui apa yang terjadi di belakang layar hidup kita? Akankah kita terhibur seandainya kita tahu bahwa ada realita lain di balik apa yang dapat kita lihat, dan itu lebih baik daripada yang kita bayangkan? Sekalipun kita bukan teladan seperti Ayub, kita tetap termasuk dari kaum berdosa yang dikasihi dan ditebus oleh Kristus. Berbahagialah oleh karena itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s