Bapa yang Baik

Baca: Mazmur 63

63:1Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda. 63:2Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. 63:3Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. 63:4Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. 63:5Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. 63:6Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. 63:7Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, — 63:8sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. 63:9Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. 63:10Tetapi orang-orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi yang paling bawah. 63:11Mereka akan diserahkan kepada kuasa pedang, mereka akan menjadi makanan anjing hutan. 63:12Tetapi raja akan bersukacita di dalam Allah; setiap orang, yang bersumpah demi Dia, akan bermegah, karena mulut orang-orang yang mengatakan dusta akan disumbat.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77–78 ; Roma 10

Waktu berbaring di tempat tidur, kuingat pada-Mu; sepanjang malam aku merenungkan Engkau. —Mazmur 63:7 BIS

Ketika putra kami, Xavier, masih kecil, suami saya kerap kali harus bepergian karena pekerjaannya. Ayahnya sering menelepon, tetapi adakalanya itu tidak cukup bagi Xavier. Untuk membantu menenangkan Xavier yang merindukan ayahnya, biasanya saya mengeluarkan album foto sebelum ia tidur. Saya memperlihatkan foto-foto yang menunjukkan pengalaman mereka bersama dan bertanya, “Kamu ingat ini?” Ingatan itu menghibur anak kami, dan ia pun sering berkata, “Ayahku baik sekali.”

Saya mengerti bagaimana Xavier perlu diingatkan kembali akan kasih ayahnya di saat mereka saling berjauhan. Di saat saya mengalami masa sulit atau merasa kesepian, saya pun rindu untuk diyakinkan bahwa saya sangat dikasihi, terutama oleh Bapa saya di surga.

Daud menyuarakan kerinduannya yang mendalam akan Allah dalam persembunyiannya di padang gurun (Mzm. 63:2). Saat mengingat kembali pengalaman pribadinya dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, Daud pun tergerak untuk memuji Allah (ay.3-6). Di sepanjang malam-malam yang berat, Daud masih tetap bersukacita dalam pemeliharaan Allah Bapanya yang penuh kasih dan yang selalu bisa diandalkannya (ay.7-9).

Di masa-masa yang kelam, ketika kita sulit merasakan kehadiran Allah, kita perlu diingatkan kembali tentang karakter Allah dan karya-karya yang menjadi bukti kasih-Nya. Ketika kita merenungkan pengalaman pribadi kita dengan-Nya dan memperhatikan segala perbuatan-Nya yang tercatat dalam Kitab Suci, kita dapat diyakinkan kembali akan betapa banyaknya cara yang telah digunakan Allah Bapa kita yang baik untuk mengasihi kita. — Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau menunjukkan kasih-Mu yang tak berkesudahan kepada umat-Mu, dalam hidup kami, dan melalui firman-Mu dalam Kitab Suci.

Dengan mengingat-ingat karya Allah, kita melihat karakter-Nya dan diyakinkan kembali akan kasih-Nya.

Wawasan:

Pernahkah Anda membayangkan apakah iman Anda bisa bertahan melewati kesukaran? Mazmur 63 menggambarkan hubungan yang karib dengan Allah, sedemikian eratnya hingga dapat menopang kita melalui masa yang begitu berat seperti “tanah yang kering dan tandus, tiada berair” (ay.2).

Ketika kita merasakan bahwa kasih Allah itu “lebih baik dari pada hidup” (ay.4), iman kita akan bertahan lama. Hubungan yang akrab dijalin lewat komunikasi yang terus menerus “sepanjang kawal malam” (ay.7). Dalam Mazmur, malam disebut sebagai waktu yang baik untuk mencurahkan kegundahan di hadapan Allah (misalnya, lihat: 4:5; 16:7; 119:55).

Dengan memelihara hubungan yang karib dengan Allah, kita memiliki kekayaan pengalaman rohani untuk diingat dan disyukuri di tengah masa sulit (63:3,7). Dengan demikian, kita bisa mempercayai Allah dan bersandar pada-Nya (ay.8-9), yakin bahwa Dia akan melepaskan kita sekali lagi (ay.10-12).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s